Sabtu 31 Oct 2026 04:35 WIB

Lahan Sawah Terus Menyusut, Sukabumi Andalkan Pertanian Modern

Peningkatan produktivitas menjadi pekerjaan yang tak bisa ditunda.

Panen padi di Desa Mekarmukti, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dalam panen perdana padi dengan teknologi pertanian modern, sistem Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS), ini produktivitas tertinggi tercatat setara 11,2 ton per hektare.
Foto: PVTPP
Panen padi di Desa Mekarmukti, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dalam panen perdana padi dengan teknologi pertanian modern, sistem Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS), ini produktivitas tertinggi tercatat setara 11,2 ton per hektare.

JAKARTA -- Lahan sawah di Kabupaten Sukabumi menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan. Sepanjang 2025, sekitar 350 hektare sawah di wilayah tersebut berubah menjadi kawasan nonpertanian. Di tengah kondisi itu, peningkatan produktivitas menjadi salah satu jalan untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Pemerintah Kabupaten Sukabumi bersama Kementerian Pertanian pun mendorong penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS). Salah satu upayanya dilakukan melalui pembukaan Sekolah Lapang PM-AAS di lahan Kelompok Tani Subur Rejeki, Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jumat (30/10/2026).

Program ini tidak sekadar mengajak petani menggunakan teknologi pertanian modern. Sekolah Lapang dirancang menjadi tempat belajar langsung bagi petani, mulai dari teknik penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga evaluasi hasil panen.

Kegiatan ditandai dengan penanaman padi menggunakan metode sebar benih serta penandatanganan komitmen mendukung PM-AAS oleh Wakil Bupati Sukabumi, Dinas Pertanian, dan perwakilan Kementerian Pertanian. Penerapan teknologi tersebut diharapkan membantu petani meningkatkan produktivitas di tengah keterbatasan lahan. Terlebih, penyusutan sawah membuat peningkatan hasil panen dari lahan yang tersedia semakin penting.

Wakil Bupati Sukabumi H Andreas mengatakan, penerapan PM-AAS sejalan dengan upaya mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. Pemerintah daerah juga mendorong strategi sangkuriang atau Swasembada Pangan Berkelanjutan dan Kemandirian Pangan.

"Strategi tersebut mencakup pengembangan kawasan pertanian, pembangunan agroindustri, serta perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan," ujarnya.

Menurut Andreas, tantangan alih fungsi lahan harus diimbangi dengan peningkatan indeks pertanaman dan produktivitas. Pemanfaatan teknologi serta pengelolaan usaha tani yang lebih efektif menjadi bagian dari upaya tersebut.

Dia juga menekankan pentingnya pendampingan kepada petani secara terencana. Penyuluh dan Dinas Pertanian diharapkan mendampingi kelompok tani sejak persiapan lahan, masa tanam, pemeliharaan, hingga pascapanen.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi